Ketika Semua Jalan Tertutup

Buku ini bisa jadi bagaikan penggalan cerita yang secara langsung menyangkut kehidupan kepenulisan saya serta berkah yang dihasilkannya. Bisa jadi hal seperti ini jauh dari memadai, dan bukanlah suatu prestasi apalagi membanggakannya. Jauh dari semua sifat yang seperti itu. Tetapi sejujurnya bagi saya pribadi, dikala seolah semua jalan tertutup ternyata menulis telah memberiku segalanya. Harapan yang memberikan semangat dan kehidupan yang berkah, bahagia untuk dilakoni. Memang masih tetap dalam batasan bersahaja tetapi sungguh memberikan solusi dan kebahagiaan tersendiri. Menulis ternyata bisa membuka peluang dan memberikan rasa bermakna dan juga menyelesaikan persoalan itu sendiri.

Rp98,000.00

Description

  • Ketika Semua Jalan Tertutup
  • Jumlah halaman -330 halaman
  • ISBN-978-602-1062-89-0
  • Cetakan ke-2

Buku ini bisa jadi bagaikan penggalan cerita yang secara langsung menyangkut kehidupan kepenulisan saya serta berkah yang dihasilkannya. Bisa jadi hal seperti ini jauh dari memadai, dan bukanlah suatu prestasi apalagi membanggakannya. Jauh dari semua sifat yang seperti itu. Tetapi sejujurnya bagi saya pribadi, dikala seolah semua jalan tertutup ternyata menulis telah memberiku segalanya. Harapan yang memberikan semangat dan kehidupan yang berkah, bahagia untuk dilakoni. Memang masih tetap dalam batasan bersahaja tetapi sungguh memberikan solusi dan kebahagiaan tersendiri. Menulis ternyata bisa membuka peluang dan memberikan rasa bermakna dan juga menyelesaikan persoalan itu sendiri.

Saya yakin hal seperti akan dapat memberikan sedikit makna bagi banyak orang. Bisa jadi bidangnya bukan penulis, tetapi setidaknya banyak hal yang bisa kita lakukan; disaat semua langkah seolah buntu. Namun demikian saya percaya semua orang mempunyai penggalan kehidupannya sendiri-sendiri yang juga tidak kalah menariknya. Penggalan kehidupan yang tertatah dengan emas dan bahkan berlian. Karena itu saya juga bisa menahan diri. Tetapi yang ingin saya kemukakan di sini adalah saya pernah mengalaminya, yakni hanya punya satu pilihan. Yakni untuk jadi seseorang sebagai penulis. Padahal dari sananya, saya sama sekali jarang bersentuhan dengan upaya untuk menulis. Memang membaca saya suka. Tetapi untuk menuliskannya, saya selalu kesulitan. Kesulitan untuk menyusun kata-katanya. Mana kata-kata yang harus di dahulukan. Pendek kata menulis adalah sesuatu yang tidak terpikirkan sejak dari awalnya.

Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak langsung. Memang ini setting ceritra tahun tahun 70an. Sekarang tentu sudah sangat berbeda. Itu menurut saya adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan abang-ijo di jalanan. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekat. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu, hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuan Yogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu. Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.

Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Sesungguhnya kisah itu sendiri jauh lebih menarik kalau dituliskan dengan hati. Bagaimana anak kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan. Teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi pengaruh. Saya bersyukur karena meski dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat itu sebuah pencapaian luar biasa. Apalagi untuk seorang lulusan SMA dari sebuah Kabupaten di Sumatera Utara. Tetapi dengan uang satu ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Tantangannya nyata dan sungguh luar biasa.

Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi hemat saya pas. Saya menyebutnya “the Pesantren Way”. Saya terinpirasi cara anak-anak Pasantren Muthopawiyah menuntut Ilu. Tekun, sederhana dan mandiri. Misalnya dalam mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya. Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan, yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas itu jauh lebih baik dari di Kampung saya. Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang harga beras waktu itu per kilonya juga masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat percaya jalan pasti ada. Saya yakin sekali jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya belum tahu.

Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak mengganggu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya, bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada di sana. Cuma bagaimana memulainya.Sudah itu saya juga tidak tahu cara mengetik dan jelas tidak punya mesin tik. Tapi jalan itulah yang paling realistis. Penggalan cerita itulah yang membuat buku ini saya tulis yang dikemas dengan menjelaskan tentang cara menulis yang baik dan benar. Yang bisa jadi peningkatan kemampuan diri. Coba simak Daftar Isinya

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Ketika Semua Jalan Tertutup”

Your email address will not be published. Required fields are marked *